Pagar Kayu, Paku, dan Tambalan

Saya teringat tentang cerita seorang anak yang suka melakukan perbuatan yang bisa dibilang buruk (cerita lengkapnya saya lupa, mungkin kira-kira seperti ini n_n). Suatu hari ayahnya berkata, “Nak, setiap kamu melakukan suatu perbuatan buruk ke orang lain, tancapkanlah sebuah paku ke pagar kayu ini”. “Baik, ayah”, anak itu menjawab. Hari-hari berlalu, dan anak itu telah memakukan banyak sekali paku ke pagar itu.

Beberapa hari kemudian, anak itu bertanya kembali kepada ayahnya. “Ayah, kapan aku boleh mencabut paku-paku ini?”. Sang ayah kemudian berkata, “Anakku, jika kamu melakukan satu perbuatan baik kepada orang lain, kamu boleh mencabut sebuah paku.” “Oh begitu, ternyata mudah toh?”, anaknya menjawab. Bulan demi bulan berlalu dan akhirnya seluruh paku telah tercabut. Anak itu dengan gembira memberitahukan kabar ini kepada ayahnya dan mengajak ayahnya untuk melihat pagar kayu itu.

Ketika tiba di depan pagar, ayahnya berkata, “Selamat anakku, engkau telah berhasil mencabut semua paku, berarti kamu telah tumbuh dewasa dan melakukan banyak hal-hal yang baik.” Sang anak pun senang mendengar perkataan ayahnya. “Tetapi lihatlah akibat dari paku-paku yang kamu tancapkan dahulu, semuanya menyisakan lobang-lobang di pagar kayu itu.” “Benar bahwa kamu telah merubah perbuatanmu menjadi baik, tetapi perbuatan kamu yang kurang baik akan menjadi sesuatu yang tidak pernah hilang.” Cerita habiss…..

Nah berdasarkan dari cerita di atas, saya berpikir, memang seiring berjalannya waktu kita sering atau pasti melakukan perbuatan buruk yang mungkin tidak akan bisa dilupakan oleh orang yang menjadi korbannya. Mungkin lobangnya kecil atau dalam sekali. Yang saya pikirkan dari cerita itu adalah tambalan. Sesuatu yang tidak pernah diceritakan oleh sang ayah, yang menurut saya itu adalah sesuatu yang hilang dari cerita itu.

Tambalan kemungkinan besar bahannya berbeda dengan bahan dasar dari pagar (hehehe… maksain). Mungkin bahannya sama, tetapi susunannya pastilah berbeda. Pagar yang ditambal tidak akan sama bentuk dan susunannya dengan pagar yang asli yang belum dilobangi. Mungkin kita selalu membuat lobang-lobang di diri orang lain, tapi kita bisa menjadi tambalan bukan? Ada kemungkinan kita memberi tambalan yang berbahan jelek, yang seakan-akan tidak ada gunanya. Tetapi bukankah lebih baik kita menjadi tambahan yang berbahan bagus, yang memperkuat bahan aslinya, yang menutup lobang sekaligus memberi kekuatan tambahan kepada bahan aslinya?

Bagaimana menurut anda?

Advertisements

~ by ghostbugx on May 22, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: